Amatullah Aronstrong dalam
kitabnya “Kunci Memasuki Dunia Tasawuf” (alih bahasa: M.S. Nasrullah dari Ahmad
Baiquni: 1996: 165) menjelaskan bahwa Mahabbah adalah cinta yang luhur, suci
dan tanpa syarat kepada Allah.
Muhammad bin Asy Syarif
dalam bukunya الحب فى القران
(alih bhs. As’ad
yasin: 1992: 48-54), menjelaskan mahabbah berasal dari kata al Habb yang
berarti al qurth, anting anting, karena anting anting selalu bergerak gerak,
condong dan bergoncang goncang di
telinga wanita yang memakainya. Dengan demikian orang yang bercinta itu hatinya
selalu bergoncang, selalu ada rasa khawatir terhadap kekasihnya, tidak pernah
merasa tenang.
Ulama Ma’ani menjelaskan
bahwa mahabbah berarti kecenderungan hati kepada sesuatu karena indahnya dan
lezatnya bagi yang mencintai. Jika kecenderungan itu kuat, dinamakan “Shahabah”
karena tercurahnya hati kepada kekasih secara keseluruhan. Tetapi jika
dinamakan “Tatayyum” penghambaan, karena menjadikan hati hati orang yang
bercinta menghambakan diri kepada kekasihnya. Dengan demikian, maka orang yang
bercinta itu adalah hamba yang selalu diperintah dan debitur (orang yang
berhutang) itu selalu tertawar.
Muhyidin Ibnu A’rabi pernah
berkata: “Barangsiapa yang mendifinisikan cinta berarti ia tidak tahu tentang
cinta, barangsiapa tidak merasakan alirannya berarti ia tidak mengenalnya, dan
barang siapa yang menyatakan bahwa dia telah putus dengan cinta berarti ia
tidak mengerti cinta, karena cinta adalah minum tetapi tidak pernah merasa
puas.
Demikianlah cinta itu
adalah kerinduan dan perasaan tiada batasnya. Maka tidak ada suatu kondisipun
yang dicapai oleh orang yang cinta (Al Muhibb) kecuali ia melihat bahwa dibalik
itu ada yang lebih sempurna lagi.
Rabi’ah al Adawiyah seorang
wanita yang mengikuti masalah mahabbah Ilahiyah, ketika ditanya mengenai
mahabbah menjelaskan: Mahabbah diantara orang yang mencintai dan yang dicintai
itu tidak ada jarak. Ia adalah pembicaraan tentang keindahan dan penyifatan
tentang perasaan. Barang siapa yang merasakan berarti ia telah mengenal dan
barang siapa yang mensyifati maka ia tidaklah
bersifat dengannya.
Dalam menyifati cinta Ibnu
al Qayyim berkata: Cinta itu tidak diketahui hakekatnya, kecuali hanya dengan
merasakan dan keberadaannya, membedakan antara merasakan dan keberadaan, antara
menggambarkan dan mengetahui. Maka batasan batasan dan rumusan rumusan untuk
mendifinisikan cinta adalah benar, tetapi tidak cukup untuk mengungkapkan
hakekatnya. Cinta itu adalah isyarat isyarat, tanda –tanda, dan peringatan
peringatan.
Dari uraian diatas Syekh
Muhammad Shalih al Munajjid (2006:321) mengungkapkan bahwa yang terpenting
semua jenis sifat yang disebutkan diatas itu ada pada diri yang jatuh cinta.
Pengertian Mahabbah
4/
5
Oleh
duniakuliah
