Rabu, 09 Januari 2019

Pengertian Mahabbah



Amatullah Aronstrong dalam kitabnya “Kunci Memasuki Dunia Tasawuf” (alih bahasa: M.S. Nasrullah dari Ahmad Baiquni: 1996: 165) menjelaskan bahwa Mahabbah adalah cinta yang luhur, suci dan tanpa syarat kepada Allah.
Muhammad bin Asy Syarif dalam bukunya الحب فى القران (alih bhs. As’ad yasin: 1992: 48-54), menjelaskan mahabbah berasal dari kata al Habb yang berarti al qurth, anting anting, karena anting anting selalu bergerak gerak, condong  dan bergoncang goncang di telinga wanita yang memakainya. Dengan demikian orang yang bercinta itu hatinya selalu bergoncang, selalu ada rasa khawatir terhadap kekasihnya, tidak pernah merasa tenang.
Ada juga yang mengatakan kata al Hubb itu berasal dari kata al Habb yang berarti Khaabiyah –buyung besar atau tong besar. Tong atau buyung itu tidak dapat diisi lagi jika sudah oenuh dengan air. Demikian pula hati jika sudah penuh dengan cinta, maka tidak dapt di isi lagi dengan yang lain.
Para ahli bahasa yang lain mengatakan bahwa al Hubb, lebih banyak dipergunakan, karena menunjukkan intesitas atau kesangatan yaitu sangat cinta. Karena harakat dhammah itu lebih kuat dari pada harakat fathah maupun kasrah. Sebab harakah dhammah itu harakah yang paling kuat dan kokoh, dan ini menunjukkan sangat cinta. Dan jika dibaca al Hibb berarti al mahbuub yang dicintai, kekasih, karena kasrah itu lebih ringan dari pada dhammah. Hal ini sebagai isyarat bahwa kekasih itu ringan dan mudah diinagat oleh hati dan selalu dipatuhi perintah dan larangannya.
Ulama Ma’ani menjelaskan bahwa mahabbah berarti kecenderungan hati kepada sesuatu karena indahnya dan lezatnya bagi yang mencintai. Jika kecenderungan itu kuat, dinamakan “Shahabah” karena tercurahnya hati kepada kekasih secara keseluruhan. Tetapi jika dinamakan “Tatayyum” penghambaan, karena menjadikan hati hati orang yang bercinta menghambakan diri kepada kekasihnya. Dengan demikian, maka orang yang bercinta itu adalah hamba yang selalu diperintah dan debitur (orang yang berhutang) itu selalu tertawar.
Para ahli tasawuf menjelaskan bahwa “al Hubb” cinta itu meliputi ilham, pancaran dan luap luapan, hati, cinta dengan segala perasaan dan keberadaannya. Dengan makna dan tingkatan tingkatan ini, maka cinta itu tidak dapat diberi batasan, tidak dapat didefinisikan dan tidak dapat dijelaskan hakekatnya dan rahasianya. Cinta hanya dapat didifinisikan dengan kata kata saja, tidak lebih Agar dapat mengetahui inti dan hakekat makna cinta secara lengkap dan menyeluruh,  maka hal ini diluar batas kemampuan manusia. Karena cinta itu hanya dapat dirasakan tidak dapat disifati, dapat dimengerti, tetapi tidak dapat didefinisikan.
Muhyidin Ibnu A’rabi pernah berkata: “Barangsiapa yang mendifinisikan cinta berarti ia tidak tahu tentang cinta, barangsiapa tidak merasakan alirannya berarti ia tidak mengenalnya, dan barang siapa yang menyatakan bahwa dia telah putus dengan cinta berarti ia tidak mengerti cinta, karena cinta adalah minum tetapi tidak pernah merasa puas.
Demikianlah cinta itu adalah kerinduan dan perasaan tiada batasnya. Maka tidak ada suatu kondisipun yang dicapai oleh orang yang cinta (Al Muhibb) kecuali ia melihat bahwa dibalik itu ada yang lebih sempurna lagi.
Rabi’ah al Adawiyah seorang wanita yang mengikuti masalah mahabbah Ilahiyah, ketika ditanya mengenai mahabbah menjelaskan: Mahabbah diantara orang yang mencintai dan yang dicintai itu tidak ada jarak. Ia adalah pembicaraan tentang keindahan dan penyifatan tentang perasaan. Barang siapa yang merasakan berarti ia telah mengenal dan barang siapa yang mensyifati maka ia tidaklah  bersifat dengannya.
Dalam menyifati cinta Ibnu al Qayyim berkata: Cinta itu tidak diketahui hakekatnya, kecuali hanya dengan merasakan dan keberadaannya, membedakan antara merasakan dan keberadaan, antara menggambarkan dan mengetahui. Maka batasan batasan dan rumusan rumusan untuk mendifinisikan cinta adalah benar, tetapi tidak cukup untuk mengungkapkan hakekatnya. Cinta itu adalah isyarat isyarat, tanda –tanda, dan peringatan peringatan.
Dari uraian diatas Syekh Muhammad Shalih al Munajjid (2006:321) mengungkapkan bahwa yang terpenting semua jenis sifat yang disebutkan diatas itu ada pada diri yang jatuh cinta.

Artikel Terkait

Pengertian Mahabbah
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email